RAPAT TPPS DAN PEMBINAAN GENTING PERKUAT SINERGI TEKAN ANGKA STUNTING DI BENGKULU TENGAH
Bengkulu Tengah, MC Benteng – Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah terus memperkuat komitmen dalam percepatan penurunan stunting melalui Rapat Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dan Pembinaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) Kabupaten Bengkulu Tengah, Selasa (1/9/2026), bertempat di Ruang Rapat Bupati Bengkulu Tengah.
Rapat tersebut dihadiri Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra serta Asisten Perekonomian dan Pembangunan yang mewakili Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah Bengkulu Tengah, bersama Kepala Bappeda, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas PMD, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas PUPR, Kepala Dinas Perkim, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Kominfotik, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Dinas P3AP2KB, serta jajaran OPD terkait.
Turut hadir Ketua IPKB Bengkulu Tengah, Kepala Baznas Bengkulu Tengah, Kepala Kemasyarakatan Bengkulu Tengah, Sekretaris Dinas P3AP2KB, para camat, kepala puskesmas, Ketua Apdesi Bengkulu Tengah, Ketua Pokja IV TP PKK, jajaran bidang teknis OPD, penyuluh KB, staf data dan informasi, serta media.

Rapat membahas evaluasi perkembangan penanganan stunting sekaligus penguatan intervensi lintas sektor, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, desa hingga keluarga.
Berdasarkan data prevalensi balita stunting Kabupaten Bengkulu Tengah, jumlah balita stunting tercatat sebanyak 319 kasus pada Agustus 2024, menurun menjadi 258 kasus pada Agustus 2025, dan kembali turun menjadi 251 kasus pada Februari 2026. Tren penurunan tersebut menjadi capaian yang perlu dipertahankan sekaligus diperkuat melalui intervensi yang lebih terarah.
Salah satu fokus pembahasan adalah pencegahan perkawinan usia anak sebagai bagian dari upaya penanganan stunting dari hulu. Perkawinan pada usia terlalu muda dinilai dapat meningkatkan berbagai risiko apabila pasangan belum memiliki kesiapan pendidikan, mental, ekonomi maupun kesehatan dalam membangun keluarga dan menghadapi kehamilan.
Karena itu, edukasi kepada remaja sejak bangku sekolah dinilai penting untuk terus diperkuat. Penyuluhan diharapkan tidak hanya berupa larangan atau imbauan, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai tanggung jawab dan kesiapan yang harus dimiliki sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.
Upaya tersebut akan diperkuat melalui kolaborasi penyuluh KB, tenaga kesehatan, penyuluh agama dan pihak sekolah, khususnya pada jenjang SMP dan SMA. Para remaja diharapkan memahami bahwa pernikahan bukan hanya menyangkut pelaksanaan acara, tetapi juga kesiapan membangun rumah tangga, menjaga kesehatan ibu dan anak, memenuhi kebutuhan keluarga serta memberikan pengasuhan yang baik.

Rapat juga membahas persoalan perkawinan yang tidak tercatat secara resmi. Pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama dan pihak terkait didorong untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar setiap perkawinan dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan tercatat secara resmi.
Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra, yang mewakili Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah Bengkulu Tengah, menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting membutuhkan kerja bersama dan harus dimulai dari langkah pencegahan.
“Penanganan stunting tidak bisa dilakukan oleh satu sektor saja. Kita harus bergerak bersama dari hulu. Anak-anak kita perlu diberikan pemahaman tentang risiko perkawinan usia anak dan tanggung jawab setelah berkeluarga. Semua sektor, termasuk desa, sekolah, kesehatan, penyuluh KB dan tokoh agama harus ikut mengambil peran,” ujarnya.
Selain pencegahan, rapat turut membahas penguatan Program Genting melalui semangat gotong royong di tingkat desa. Pemerintah desa didorong mengidentifikasi keluarga yang memiliki anak berisiko stunting dan menggerakkan keluarga maupun masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Program Genting diharapkan dapat menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha maupun pihak lainnya dalam membantu keluarga yang membutuhkan, khususnya dalam pemenuhan gizi dan kebutuhan dasar anak.
Dari sektor kesehatan, intervensi dilakukan melalui pemantauan ibu hamil dan balita, pemberian makanan tambahan (PMT), edukasi gizi serta pelayanan di puskesmas. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga diharapkan dapat mendukung pemenuhan gizi bagi kelompok sasaran.
Rapat turut menekankan pentingnya pemutakhiran dan validasi data stunting secara lebih rinci mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga wilayah kerja puskesmas. Data yang akurat dan mutakhir diperlukan agar sasaran intervensi dapat dipastikan tepat sesuai kondisi di lapangan.

Selain faktor gizi, kondisi lingkungan juga menjadi perhatian. Penanganan keluarga berisiko stunting akan dikolaborasikan dengan program sanitasi, jamban dan rumah tidak layak huni. Dengan demikian, intervensi tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga pada penciptaan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak.
Pemerintah desa juga didorong berperan aktif melalui penganggaran dan program yang mendukung pencegahan serta penanganan stunting. Kolaborasi bersama Apdesi, puskesmas, penyuluh KB, OPD terkait dan masyarakat akan terus diperkuat agar intervensi dapat berjalan hingga tingkat keluarga.

Melalui rapat TPPS dan pembinaan Genting tersebut, Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah menegaskan bahwa penurunan stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama yang berkaitan dengan pendidikan, kependudukan, keluarga, ekonomi, lingkungan dan pembangunan manusia.
“Kita tidak ingin rapat ini hanya menjadi seremonial. Hasil pembahasan harus ditindaklanjuti oleh masing-masing sektor. Kita perbaiki datanya, kita pastikan sasarannya, kemudian kita bergerak bersama sampai ke desa dan keluarga,” tutupnya.
(MC-Mel)
Komentar
20
Login Form
Silahkan login dengan mengisi informasi dibawah iniRegistrasi Akun