MALAM MAROBA BERBINAR MERIAHKAN HARI KEBUDAYAAN NASIONAL, BENGKULU TENGAH TAMPILKAN WARISAN BUDAYA DAERAH

Media Pemkab Benteng
18 Oktober 2026
07:34 WIB

Bengkulu Tengah, MC Benteng – Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah menggelar Malam Maroba Berbinar sekaligus memperingati Hari Kebudayaan Nasional dengan menampilkan beragam kesenian tradisional khas daerah, yakni Sarafal Anam, Berejung, dan Bubu Gile. Kegiatan berlangsung di halaman Kantor Bupati Bengkulu Tengah, Sabtu (17/10/2026).

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Bengkulu Tengah Drs. Rachmat Riyanto, S.T., M.AP., Ketua DPRD Fepi Suheri, S.A.P., Sekretaris Daerah Drs. Tomi Marisi, M.Si., para asisten dan staf ahli bupati, Ketua TP PKK Kabupaten Bengkulu Tengah Dr. Susilo Damarini Rachmat, S.KM., M.PH., Ketua IKBD Ny. Fitri Suheri, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu, kepala OPD, camat, para pekerja seni serta undangan lainnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Apel Malam Berbinar yang dipimpin Sekretaris Daerah Bengkulu Tengah Drs. Tomi Marisi, M.Si. Dalam arahannya, Sekda mengingatkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) agar hadir sesuai jadwal yang telah ditentukan dan datang lebih awal sehingga pelaksanaan kegiatan dapat berjalan tertib dan lancar.

Ia menyampaikan bahwa Malam Berbinar tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana mendekatkan pemerintah daerah dengan masyarakat. Melalui kegiatan yang menghadirkan seni, budaya, dan kreativitas lokal ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk hadir, berinteraksi, serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan pemerintah daerah.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkulu Tengah, Parli Septiadi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut terlaksana melalui kerja sama dengan Sanggar Pancamukti, Balai Pelestarian Kebudayaan, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkulu Tengah.

Mengusung tema “Merawat Warisan, Merajut Keberagaman, Membangun Peradaban”, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah harus berjalan seiring dengan upaya menjaga akar kebudayaan.

Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana memperkenalkan kekayaan warisan budaya Bengkulu Tengah, khususnya kepada generasi muda, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, komunitas budaya, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

Penampilan pembuka diisi dengan kesenian Sarafal Anam dari Desa Tanjung Terdana dan Kecamatan Merigi Kelindang. Pertunjukan tersebut memperlihatkan semangat para pelaku seni dalam menjaga tradisi sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat lintas generasi.

Dalam sambutannya, Bupati Bengkulu Tengah Drs. Rachmat Riyanto, S.T., M.AP., mengapresiasi penampilan para seniman, terutama keterlibatan anak-anak yang tampil dengan penuh percaya diri di hadapan masyarakat.

“Yang paling membahagiakan bukan hanya penampilannya, tetapi juga bagaimana anak-anak kita yang masih berusia 10 tahun ke bawah mampu tampil dengan luar biasa. Mereka berani, percaya diri, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Ini menjadi bukti bahwa pembinaan kebudayaan terus berjalan dan generasi muda mulai mengambil peran dalam melestarikan warisan leluhur,” ungkap Bupati.

Bupati menilai, keterlibatan generasi muda merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kebudayaan daerah. Dengan memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar dan tampil, pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki para seniman senior dapat diwariskan kepada generasi penerus.

Ia juga menyampaikan bahwa Bengkulu Tengah memiliki potensi seni tradisional yang besar, salah satunya kesenian Sarafal Anam yang masih aktif berkembang di tengah masyarakat.

“Dari pengamatan saya, ada sekitar 70 grup Sarafal Anam yang masih aktif. Ini menunjukkan bahwa Bengkulu Tengah memiliki kekayaan budaya yang luar biasa dan masyarakatnya memiliki kesungguhan untuk terus menjaga serta menampilkan tradisi tersebut. Pemerintah daerah akan terus mendukung berbagai upaya pelestarian kebudayaan agar warisan ini tetap hidup dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang,” tambahnya.

Selanjutnya, masyarakat disuguhkan penampilan Berejung yang dibawakan oleh Suhayani dari Desa Tanjung Terdana. Kesenian ini menjadi salah satu bentuk ekspresi seni tradisional yang mencerminkan kekayaan budaya lokal dan perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.

Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Rahma Dewi, S.Sos., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan melaksanakan kegiatan peringatan Hari Kebudayaan secara serentak di sembilan kabupaten dan kota serta tingkat Provinsi Bengkulu.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan wujud kolaborasi antara pemerintah, maestro pelaku budaya, komunitas kebudayaan, serta seluruh lapisan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan Hari Kebudayaan di Kabupaten Bengkulu Tengah. Malam ini kita menyaksikan warisan budaya yang dimiliki daerah, di antaranya Sarafal Anam, Berejung, dan Bubu Gile. Penampilan ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan bukti bahwa budaya kita masih hidup, dirawat, dan diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Rahma menjelaskan bahwa kegiatan tersebut mengusung tema “Budaya Hidup, Indonesia Bergaya” yang dimaknai melalui tiga pilar, yaitu berakar, bertumbuh, dan berbuah. Berakar berarti mengenal asal-usul, merawat ingatan, serta menghormati para penjaga tradisi. Bertumbuh berarti mempraktikkan kebudayaan, membuka ruang partisipasi, dan menciptakan karya. Sementara itu, berbuah berarti merasakan manfaat kebudayaan dalam mempererat kebersamaan dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya. Ia menilai semangat ketiga pilar tersebut tercermin dalam penyelenggaraan Malam Maroba Berbin ar di Bengkulu Tengah, melalui keterlibatan para seniman, komunitas budaya, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Kegiatan kemudian ditutup dengan penampilan Bubu Gile, kesenian tradisional masyarakat Suku Lembak di Bengkulu Tengah yang terinspirasi dari alat perangkap ikan berupa bubu. Dengan memanfaatkan bahan-bahan dari alam, tradisi yang dekat dengan kehidupan masyarakat tersebut dikembangkan menjadi sebuah pertunjukan budaya yang unik.

Bubu Gile tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga merepresentasikan hubungan erat antara manusia, alam, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Penampilan ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya lokal agar tetap dikenal, dipelajari, dan dilestarikan oleh generasi mendatang.

Melalui Malam Maroba Berbinar sekaligus peringatan Hari Kebudayaan Nasional ini, Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah berharap tumbuh kesadaran bersama untuk menjaga kekayaan budaya daerah, memperkuat identitas masyarakat, serta menjadikan keberagaman sebagai kekuatan dalam membangun Bengkulu Tengah yang berkarakter dan bermartabat.

(MC/BDR)

Komentar

20