Dinas P3AP2KB Bentuk Kabupaten Layak Anak

BENGKULU TENGAH РSebagai bentuk kepedulian terhadap anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) telah melakukan pembentukan kota layak anak.

Kepala Dinas P3AP2KB Bengkulu Tengah Sri Haryati Prasetia, S.STP mengungkapkan, kegiatan yang digelar di aula Riung Gunung tersebut merupakan program Kementerian yang digagas secara bersama dengan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, salah satunya yakni Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang).

“Ya untuk ini kita sudah melakukan pengawasan maupun monitoring terhadap pelaksanaan program perlindungan anak di Kabupaten Benteng,” jelas Sri kepada Jurnalis Kominfo, Senin (29/10/2018)

Adapun kata Sri, kedepan dirinya berharap program tersebut dapat diadopsi oleh beberapa OPD sesuai bidang dan kerjanya masing-masing.

“Contoh untuk ruang bermain anak itu bidangnya melalui Dinas PUPR, sedangkan untuk mendapatkan pendidikan yang layak itu dilakukan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora), begitu juga dengan dinas-dinas lainnya,” ujar Sri.

Dengan demikian lanjut dia, dengan berjalannya program Kabupaten Layak Anak (KLA) kedepan karakter anak akan semakin meningkat dan dapat menjadi andalan untuk membangun Daerah Kabupaten Ini.

“Harapan kita seperti itu, karena apabila KLA ini sudah berjalan, otomatis peningkatan karakter terhadap anak akan semakin baik dan itu juga berdampak kepada kemajuan daerahnya,” bebernya.

Terpisah Ketua Program Kabupaten Layak Anak, Tonny Heryanto, M.Si mengatakan KLA masuk dalam project dari nasional hingga ke daerah. Dan tentunya program ini sangat membutuhkan dukungan terutama anggaran agar bisa dilaksanakan dan menghasilkan anak yang cerdas, berperilaku yang baik dan bisa menjadi generasi penerus pembangunan daerah.

“Dukungan dana sangat dibutuhkan untuk menjalankan program ini,” kata Tonny.

Ia menambahkan, tercatat sejak tahun 2016/2017  hingga sekarang setidaknya ada 16 kasus korban kekerasan yang dialami anak. Belum lagi pelaku tindakan kejahatan dari kalangan anak-anak yang seharusnya mengenyam pendidikan juga seringkali dijumpai.

“Hal ini salah satunya karena minimnya pengawasan dan perlindungan,” demikian Tonny. (Tim)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *